Skip to content

ICBC Gunung Salak

Minggu, 5 Oktober 2008
by

icbc gunung salakAkhir Agustus 2003, ICBC mengadakan pelatihan perdana buat mahasiswa-mahasiswa angkatan 2002 dan 2003. Selama dua hari mereka di gembleng wawasan dan mentalnya oleh tim ICBC, yang terdiri dari Pak Syamsul, Pak Andy, Pak Dede, Pak Fu, Bu Ida. Selama dua hari itu mereka diberikan wawasan tentang diri mereka. Siapa dan apa tugas manusia di bumi ini menurut ajaran Islam. Sebagai manusia yang beragama Islam, para mahasiswa ini diharapkan dapat mengenali dirinya, baik sisi positif maupun negatifnya. Kemudian setelah itu diharapkan mereka dapat mensyukuri diri dengan memanfaatkan sebaik-baiknya karunia yang telah diberikan Allah berupa potensi positip dalam diri masing-masing. Demi menjadi manusia unggul mereka harus bisa mengasah dan mengembangkan potensi-potensi yang mereka miliki, sehingga dapat semakin berguna dan bermanfaat buat manusia dan alam semesta.

Tidak cukup dengan pelatihan dalam kelas, ICBC mengajak para peserta untuk mengikuti petualangan di alam liar selama 2 hari. Kali ini gunung salak, dipilih sebagai lokasi pengemblengan. Alam pegunungan yang berat, cuaca yang kurang bersahabat, dan keterbatasan makanan dan lainnya dijadikan tantangan buat para peserta untuk menjajal kekuatan mental dan fisik sekali gus. Mendengar kata gunung dan kemping, awalnya banyak peserta yang ciut nyalinya, khususnya para mahasiswi. Namun, kepiawaian tim ICBC membujuk mereka, ditambah kata kunci “GRATIS” membuat mereka berbalik. Bahkan tanpa disangka, beberapa mahasiswa dari jurusan lain pun ikut mendaftar, seperti bhs. Arab, Kimia, ppkn, UIN dan satu unv. swasta (maaf: lupa namanya), termasuk beberapa orang dari luar kampus. Lalu siapa yang mengajak mereka? Ya tentunya ini semua inisiatif mahasiswa dan diizinkan oleh tim ICBC. Selain itu beberapa dosen juga ikut, yaitu: Pak Syamsul, Pak Andy, Pak Dede, Pak Fu, Pak Zahruddin Pak Edi Pak Syafiuddin, dan Pak Fadil. Sebagai pemandu di lokasi ICBC mendapat bantuan dari teman-teman pecinta alam dari Pondok Pinang.

Nah, bagaimana kisah petualangan mereka selengkapnya? Ikuti cerita bergambar berikut ini.

Para peserta di bagi perkelompok, kemudian memainkan game ‘keluarga cacat’. Setiap keluarga ada 3 orang catat, yaitu pincang, patah tangan, dan buta. Supaya lebih seru, ada beberap keluarga yang diserahi mengurus ‘orang gila’ dari luar. Nah keluarga ini harus mampu mencapai lokasi kemping, dengan segala kelebihan dan kekurangan anggotanya.  Disini dibutuhkan kerjasama tim yang baik.

Setiap kelompok juga diserahi tugas mendirikan tendanya masing-masing di lokasi kemping. Karena masih banyak anggota kelompok yang belum bisa mendirikan tenda, mereka harus terus berlatih setiap kali istirahat dalam perjalanan.

Istirahat sepertinya menjadi intruksi yang ditunggu-tunggu oleh setiap kelompok. Setiap kata ‘istirahat’ diteriakkan oleh instruktur, semua peserta tanpa menunda-nunda langsung duduk atau tiduran dimana saja.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam, akhirnya menjelang magrib semua sampai di lokasi kemping. Hujan pun turun, semua kelompok berpacu mendirikan tenda. Ada yang cepat dan selamat dari basah, tapi ada yang terpaksa mandi sore dengan air hujan. Uhhh dingin.

Sebagai penghangat api unggun pun dinyalakan. Semua berkumpul mengelilingi api, mencari kehangatan. Diskusi mulai dari yang ringan sampai yang berat berlangsung. Termasuk ungkapan rasa persahabatan dari mahasiswa non jiai yang ditandai pemberian coklat oleh mahasiswa UIN.

Sebelum berangkat, setiap peserta dilarang membawa makanan, perlengkapan mandi, HP, dan lain-lain. Pakaian saja dibatasi hanya boleh bawa 2 stel. Trus bagaimana mereka makan? Siapa yang masak? Perlengkapan masak sih sudah dibawa oleh tim icbc, tapi siapa yang bisa masak? ternyata ga ada yang bisa. Akhirnya hanya bisa makan seadanya dan secukupnya. Persis kayak pengungsi. Namun tetap saja mereka puas. Loh kok puas? yah, harus puas donk, kalo nggak ntar disuruh pulang sendiri. he he.

Komentar Pak Syamsul, “Terima kasih kepada semua panitia yang telah menyiksa saya, mengajak saya mendaki gunung sehingga kaki saya rasanya mau copot. Ini suatu kegiatan yang tidak pernah terbayangkan oleh saya. Saya kira acaranya diadakan di villa, tapi kok di gunung beneran. Mana saya sudah bawa tas koper, pake sepatu pantopel dan bawa charger lagi. Jadi sebel”

2 Komentar leave one →
  1. fa'ank permalink
    Minggu, 19 Oktober 2008 12:54 am

    wuidih ma’ nyos rek, makin apik temen rek, hidup jiai….. n jaya 4ever.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: