Skip to content

Ikhtiar Melupakan Lupa

Rabu, 15 Oktober 2008
by

PETENGAHAN pekan lalu, saya menerima sebuah surat elektronik dari pria bernama Faisal. Ia mengeluhkan 12 jam dalam hidupnya yang begitu rusuh lantaran “kehilangan” dompet. Telepon sana-sini memblokir ATM dan kartu kredit, berjam-jam menapaktilasi tempat-tempat yang dicurigai sebagai lokasi tercecernya dompet.

Belum lagi sepulang dia mengurus surat keterangan kehilangan di kantor polisi, bumper mobilnya bertumbukan dengan bagian belakang mobil lain; penyok! “Sampai di rumah, pengasuh anak saya tiba-tiba menyodorkan dompet itu, yang ia temukan di pinggiran sofa ruang tamu,” tutur Faisal.

Setelah dirunut-runut, rupanya beberapa jam sebelum menyadari “kehilangan” itu, Faisal –dengan sadar– menaruh dompet kulit warna hitamnya di pinggiran sofa, lalu asyik menonton televisi. Di tengah kepanikan mencari, pinggiran sofa itu luput dari perhatian.

Menyesal, geram, geli, dan berbagai perasaan lain bercampur aduk dalam diri Faisal menyikapi peristiwa lupa yang bikin rusuh itu. “Lupa tak cukup hanya ditanggapi sebagai hal manusiawi. Saya merasa memori otak saya harus direparasi,” tulisnya.

Faisal, 36 tahun, mengakui bahwa beberapa tahun belakangan, kualitas ingatannya terus menurun. Saya coba membandingkannya dengan ketidaknyamanan yang saya alami saat lupa letak bolpoin, kunci, remote control televisi yang sebelumnya –dalam rentang waktu tidak terlalu lama– saya taruh di suatu tempat. Belum lagi urusan nama-nama kenalan baru dan nomor-nomor telepon yang seolah menguap begitu saja dari kepala, juga dalam waktu singkat.

Mengapa begitu mudah lupa? Apa yang salah dengan daya ingat kita? Apakah benar olok-olok yang menyebut tentang keterbatasan kapasitas otak kita? Sejauh mana kemampuan kita untuk mengingat? Dan, apakah kemampuan mengingat berbanding lurus dengan pertambahan usia?

“Kemampuan otak manusia untuk mengingat tidak terbatas,” begitu dikemukakan Irwan Widiatmoko, 30 tahun, Direktur Brain’s Power Indonesia. Dengan mengutip penelitian mutakhir, ia menyebutkan, orang hanya menggunakan kapasitas otaknya tak sampai 1%. Iwan juga menjelaskan, otak manusia memiliki kompleksitas luar biasa, sehingga tidak ada batas, ruang, lingkup, atau kapasitas untuk tumbuh.

Penemu “peta pikiran” Tony Buzan, dalam buku Head Strong, mengemukakan bahwa otak manusia mengandung 1 trilyun neuron (sel saraf), yang disusupkan sejak lahir. Jika memakai patokan jumlah manusia pada pergantian abad ke-21 yang mencapai enam milyar, dalam kepala bayi yang mungil termuat sel saraf 166 kali lipat jumlah peduduk bumi.

Angka itu belum seberapa jika dibandingkan dengan jumlah pola yang bisa dibuat otak –dalam bahasa Tony disebut “peta pikiran”. Dengan meminjam temuan peneliti Rusia, Prof. Pyotr Anokhin, Tony mengungkapkan bahwa jumlah “peta pikiran” yang dihasilkan otak adalah angka satu diikuti angka nol (dengan besar huruf standar dalam komputer), yang panjangnya mencapai 10,5 juta kilometer.

Dengan ilustrasi lebih sederhana, pakar psikologi dan neuropsikologi dari California, Mark Rosensweig, menyatakan, sekalipun seseorang diberi informasi baru setiap detiknya selama seumur hidup, separuh kapasitas penyimpanan otaknya saja belum sepenuhnya terisi. Rosensweig ingin menegaskan bahwa masalah-masalah ingatan tidak berkaitan dengan kapasitas otak, melainkan lebih pada penanganan terhadap kapasitas tidak terbatas itu.

Melengkapi Rosensweig, Tony Buzan dalam buku lainnya, Use Your Perfect Memory, menyatakan bahwa ingatan mungkin akan mengalami penurunan sejalan dengan usia. Tapi itu terjadi jika seseorang tidak melatih penggunaan ingatannya. “Sebaliknya, jika kita menggunakannya, ingatan akan terus berkembang seumur hidup,” tulis Tony dalam buku tentang teknik optimalisasi daya ingat yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu.

Pengoptimalan itu bisa dilakukan sejak bayi. Salah satu nasihat yang diberikan Tony Buzan: jangan mendorong si mungil menuju perkembangan dan pemikiran “satu kaki”. Seringkali, dengan alasan sopan santun, orangtua meminimalkan penggunaan tangan kiri. Padahal, seperti ditulis Tony Buzan dalam Brain Child, untuk tumbuh kembang otak, si bayi harus didorong menggunakan kedua tangan dengan sama baiknya.

Beberapa tahun belakangan, di Indonesia bermunculan klinik atau lembaga pelatihan untuk mengoptimalkan ingatan dengan berbagai pendekatan, dari merangsang “kecakapan” otak sampai pendekatan hipnoterapi. Misalnya, Irwan Widiatmoko dengan lembaga Brain’s Power –berkantor pusat di Surabaya– yang didirikannya mengusung metode Super Genius Memory (SGM). Ada beberapa teknik berpelat SGM yang Irwan kembangkan, yakni SGM Stories, SGM Mnemonic, SGM Location, SGM Number, SGM Sentence, dan SGM Face.

Sabtu pekan lalu, lembaga itu baru mengadakan pelatihan di Hotel Maharaja, Jakarta. Irwan yang dikenal dengan sebutan Mr. SGM ini mengisahkan, sejak awal 2002 dia berlatih ekstra untuk menerapkan teknik-teknik yang diajarkannya pada pelatihan SGM.

Untuk mencapai sebutan “master” dalam bidang ingatan otak, Irwan yang semula tidak tahu apa-apa hanya butuh waktu dua tahun. Satu tahun pertama dihabiskan untuk melahap semua buku yang berkaitan dengan penguatan memori. “Satu tahun berikutnya belajar untuk demo dan menjadi trainer,” ujar bujangan pemegang rekor pertama daya ingat versi Museum Rekor Indonesia itu.

Sementara lembaga Prima Study yang berpusat di selatan Jakarta, Depok, menawarkan jasa pelatihan untuk meningkatkan daya ingat dengan “metode” Prima Memory. Menurut Yovan P. Putra, CH, trainer dan hipnoterapis dari Prima Study, selain menggunakan hipnoterapi (relaksasi, induksi sugesti positif), sesi pelatihan Prima Memory dijalankan dengan 10 prinsip peningkatan daya ingat yang telah dikembangkan lembaga ini. “Paling banyak peserta kami pelajar dari SMP sampai anak kuliah,” kata Yovan.

Klinik The Indonesian Board of Hypnotherapy di Surabaya, selain menyediakan paket terapi untuk masalah-masalah yang berhubungan dengan penguatan memori, juga melayani macam-macam terapi lainnya, dari penanggulangan fobia, kecanduan narkoba, sampai penurunan berat badan. Semua dilakukan dengan pendekatan hipnoterapi.

Masih di Surabaya, Fanny Boediman dikenal dengan teknik memorinya guna mengfungsikan otak kanan dan kiri secara maksimal. Jasa pelatihannya lebih ditujukan untuk siswa SMP dan SMU. Alasannya, ia prihatin terhadap kurikulum sekolah umum yang padat dan membuat anak tidak maksimal dalam belajar. “Mereka cenderung dikondisikan untuk menghafal dengan otak kiri saja,” kata Fanny, yang pernah menjadi instruktur untuk Super Brain, sebuah lembaga pelatihan otak di Surabaya.

Selama bergabung dengan Super Brain, alumnus Fakultas Teknik Sipil Universitas Petra, Surabaya, itu mendapat kesempatan mengikuti Mind Sports Olimpiad (MSO) Manchester Conference Center di University of Manchester Institute of Science and Technology, London. Fanny bahkan mendapatkan gelar grandmaster of memory techniques pada kompetisi yang diadakan tahun 2003 itu.” MSO punya taraf internasional dengan peserta yang ahli, mengingat dari senua penjuru dunia,” katanya kepada Taufan Luko Bahana dari Gatra.

Salah satu kunci keberhasilan Fanny di ajang MSO adalah memberikan ruang pada otaknya untuk menyimpan memori baru. Itu sebabnya, ia sering bepergian mengunjungi tempat-tempat baru. Karena, Fanny melanjutkan, pada dasarnya otak akan membuat slot baru ketika menemukan hal-hal baru.

Ketika slot baru itu dibuka, Fanny tinggal mengisinya dengan memori-memori hafalan. Hal ini membuatnya lebih mudah menyimpan ingatan bersama imajinasi yang pernah ia dapatkan saat mengunjungi tempat baru tersebut. Dengan itu, ia bisa menghafal ratusan kata dan angka dalam waktu singkat.

Uniknya, meski sudah meraih gelar grandmaster dalam teknik memori, Fanny mengaku masih sering lupa untuk hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-harinya. Ia sering lupa di mana menaruh buku-buku koleksi dan kunci mobil ketika benda-benda itu dibutuhkan. “Lupa kan hal wajar dimiliki setiap manusia,” kata Fanny sambil tersenyum.

Selain Fanny, ada juga Richard Claproth yang membuka jasa hipnoterapi untuk mengoptimalkan ingatan, berlokasi di wilayah Jakarta Selatan. Bersama organisasi Smart Leadership, Richard berhasil menelurkan sekitar 160 orang sebagai alumni. “Sebagian besar pekerja sosial,” ujar Richard. Para alumni itu dibekali dengan kemampuan hipnoterapi yang akan mereka gunakan untuk self-hypno alias menghipnosis diri sendiri untuk berbagai keperluan, termasuk meningkatkan daya ingat dan “melupakan” lupa.

Efektifkah hipnoterapi mengatasi lupa? Menurut ahli penyakit saraf pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. Bob Santoso Wibowo, SpS (K), lupa bisa disebabkan penyakit seperti gangguan pembuluh darah, gangguan pada saraf-saraf atau bagian-bagian otak, kerusakan otak, infeksi pada otak, degenerasi, dan atrofi (pengecilan otak). “Jika tidak ada penyakit, lupa juga bisa disebabkan terlalu banyak hal yang harus diingat, dikerjakan atau terlalu sibuk,” kata Bob kepada Azhimi Rahmawati dari Gatra.

Lebih jauh Bob menjelaskan bahwa orang normal yang pelupa dan kurang konsentrasi bisa saja dibantu dengan hipnoterapi, karena pendekatan ini akan memberikan sugesti untuk menolong mereka yang lupa agar lebih berkonsentrasi dan mengingat. Namun, terhadap penderita penyakit tertentu –seperti demensia atau vascular dementia post-stroke– yang menyebabkannya menjadi pelupa, orang yang bersangkutan perlu diobati berdasarkan kasus penyebabnya.

Hampir senada dengan itu, hipnoterapis Yovan P. Putra menyebutkan tiga faktor penyebab lupa. Pertama, kegagalan pada proses pengodean informasi (encoding failure). Lupa menaruh bolpoin, kunci, atau pengendali jarak jauh televisi merupakan contoh kegagalan ini. “Ini diakibatkan, saat kita menaruh benda-benda itu, pikiran kita sedang mengembara ke tempat lain,” kata Yovan.

Faktor kedua, adanya pengaruh informasi lain pada informasi yang ingin kita ingat. Contoh sederhana, menurut Yovan, terjadi ketika seseorang baru saja selesai membaca sebuah bab pada buku tertentu; seringkali informasi yang diperoleh dari bab tersebut tumpang tindih dengan informasi dari bab lain. Sedangkan faktor ketiga adalah kegagalan fungsi otak yang diakibatkan kerusakan fisik otak.

Metode pelatihan yang ditawarkan Yovan untuk mengatasi lupa tidak berbeda dengan optimalisasi kekuatan ingatan. Salah satunya dengan teknik mengasosiasikan sesuatu yang potensial terlupa dengan peristiwa-peristiwa ekstrem yang mudah direkam dalam ingatan. Kebiasaan (lupa) mengunci pintu rumah dapat diasosiasikan, misalnya, dengan peristiwa kebakaran, perampokan, atau pembunuhan yang mengenaskan. “Otak kita bekerja dengan gambar, bukan dengan kata-kata,” Yovan menjelaskan.

Asosiasi juga menjadi landasan Irwan Widiatmoko dalam menguraikan metode SGM-nya. Untuk orang yang kerap lupa nomor telepon, rekening, dan dan lain-lain yang berhubungan dengan angka, Irwan menyediakan SGM Number dengan kombinasi kode bunyi, kode bentuk, dan kode angka.

Yang dimaksud dengan kode bunyi yaitu mengubah angka menjadi benda yang disesuaikan dengan bunyinya. Misalnya satu menjadi batu, dua menjadi kuda, dan seterusnya. Sedangkan kode bentuk adalah mengubah angka menjadi benda yang disesuaikan dengan wujud asosiatifnya. Misalnya, 1=pensil, 2=bebek, 3=burung, 4=kursi terbalik, dan lain-lain.

Adapun kode angka mengubah angka menjadi huruf mati yang mirip bentuknya, kemudian mengubahnya lagi menjadi benda yang bisa dibayangkan. Misalnya, 1=T=Ta, 2=N=Na, 3=M=Ma, 4=P=Pa, 5=S=Sa, 6=L=La, 7=J=Ja, 8=B=Ba, 9=G=Ga, 0=D=Da. Konsonan dari tiap huruf tersebut bisa berubah-ubah sesuai imajinasi masing-masing orang. Apabila digabungkan, 01=Data, 02=Dana, dan sebagainya.

Masih banyak lagi teknik lainnya yang dikembangkan masing-masing lembaga pelatihan. Sekilas, teknik-teknik itu terasa lebih rumit dari cara “lumrah” untuk mengingat. Namun, baik Yovan maupun Irwan yakin, dengan melatih teknik itu secara terus-menerus, masalah kegagalan fungsi otak –yang tidak sebabkan oleh penyakit– seperti lupa dapat teratasi.

Setelah peristiwa lupa menaruh dompet yang bikin senewen itu, pada penutup surat elekroniknya Faisal menulis bahwa ia sudah memutuskan untuk secepatnya mengikuti pelatihan otak. Ia seperti tidak sabar untuk mengatasi masalah lupa, sekaligus mendongkrak kemampuan memorinya.

Saya tentu saja penasaran; ingin mengetahui asosiasi seperti apa yang ia pilih untuk “menggantikan” kebiasaannya mengeluarkan dompet dari saku celana. Dua minggu lagi, saya akan menghubungi dia untuk menanyakan hasil pelatihannya. Mudah-mudahan saat itu saya masih ingat nomor teleponnya.

Bambang Sulistiyo, Alfian, dan Elmy Diah Larasati
[Laporan Utama, Gatra Nomor 45 Beredar Senin, 19 September 2005]

No comments yet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: